Tafsir Al Quran Sebagai Sumber Hukum Islam

Tafsir Al Quran, Cara Memahami Sumber Hukum Islam

Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW merupakan sumber hukum utama di dalam agama Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan kalian 2 perkata yang kalian tidak akan tersesat selama kalian memegang teguh dengan keduanya : Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku (Hadits Nabi SAW)”. (HR. Al Hakim dan Imam Malik, Al Albani menilai hadits tersebut hasan).

Tafsir Al Quran Sebagai Sumber Hukum Islam
Sumber gambar: https://www.penaburkisah.com/wp-content/uploads/2016/06/al-quran-800×445.jpg

Lalu bagaimana cara atau kaidah untuk memahami keduanya?

Ibnu Taimiyah rohimahullah menyebutkan berbagai tingkatan metode untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. “Jika ada yang bertanya ‘Bagaimana metode terbaik dalam tafsir?’ Maka jawabnya sesungguhnya metode terbaik dalam hal itu adalah dengan menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an (satu ayat ditafsirkan dengan ayat yang lainnya).Sesuatu yang disebutkan secara umum dalam suatu ayat maka bisa jadi dijelaskan di ayat-ayat lainnya. Demikian pula sesuatu yang disebutkan ringkas pada salah satu ayat maka bisa jadi juga dijelaskan dalam ayat lainnya”.

Rujukan dalam tafsir Al-Qur’an menurut Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah sebagai berikut:

Tafsir Al Quran dengan Firman Allah Ta’ala

Firman Allah Ta’ala. Sehingga ayat Al Qur’an ditafsirkan dengan ayat lain dari Al Qur’an. Sebab Allah Ta’ala lah yang menurunkannya maka Dia pulalah yang paling mengetahui apa yang Dia inginkan dari ayat tersebut. Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa contoh, salah satunya adalah firman Allah Ta’ala, “Ketahuilah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak ada rasa takut terhadap diri mereka tidak pula mereka bersedih hati” (QS. Yunus : 62)

Allah Ta’ala menyebutkan tafsir siapa itu wali wali Allah pada ayat berikutnya, “Mereka adalah orang orang yang beriman lagi bertaqwa” ( QS. Yunus : 63)

Tafsir Al Quran dengan As Sunnah

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Jika engkau tidak mendapatkan tafsir Al Quran maka wajib bagimu merujuk kepada As Sunnah (hadits). Sebab As Sunnah merupakan penjabaran dan penjelas bagi Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Setiap hal yang ditentukan, dan dihukumi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu merupakan bagian dari apa yang beliau pahami dari Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu menentukan hukum diantara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat (QS. An Nisa : 105)

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kedua, Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga Al Qur’an ditafsirkan dengan hadits. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merupakan orang yang menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala. Beliaulah orang yang paling tahu apa yang Allah Ta’ala inginkan dari firman-Nya”.

Contoh penerapan kaidah ini adalah pada firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatpetunjuk” (QS. Al An’am : 82)

Al Albani rahimahullah mengatakan, “Para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami kata ‘kezholiman’ pada ayat tersebut sesuai keumumannya secara bahasa, yaitu mencakup segala bentuk kezholiman termasuk yang kecil sekalipun. Oleh sebab itulah mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak mencampurkan keimanannya dengan kezhaliman?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bukanlah demikian maksudnya. Kezholiman tersebut adalah kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar? perkataan Luqman, “Sesungguhnya kesyirikan benar-benar kezhaliman yang besar”! (QS. Luqman : 13)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Catatan penting !

Perlu diketahui perkataan Ibnu Taimiyah, Ibnu “Utsaimin, dan ulama-ulama lainnya rahimahumullah bukanlah bermaksud menomorduakan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sisi kekuatan hujjah/dalil. Oleh sebab itulah para ulama jauh-jauh hari telah menjelaskan bahwa kekuatan hujjah keduanya sama dan dapat berdiri sendiri selama hadits tersebut adalah hadits yang shahih atau valid. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan Al Kitab (Al Qur’an) dan yang semisal dengannya (Hadits)”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh Al Albani)

Demikian pula hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Ketahuilah sesungguhnya semua yang diharamkan Rasulullah semisal dengan apa yang diharamkan Allah”. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani)

Tafsir Al Quran dirujuk ucapan para shahabat

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Ketika tidak ditemukan tafsirnya di Al Qur’an maupun As Sunnah, maka tafsir tentang hal tersebut dikembalikan, dirujuk kepada ucapan para shahabat. Karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang tafsir. Sebab mereka menyaksikan turunnya Al Qur’an dan keadaan lainnya yang berkaitan dengannya. Sebab lainnya mereka merupakan orang-orang yang memiliki pemahaman sempurna tentang Al Qur’an dan ilmu yang benar tentangnya. Terutama ulama, senior, dan imam/pemimpin dari kalangan mereka semisal khulafaur rosyidin dan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum”

lbnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ketiga, Ucapan para shahabat radhiyallahu anhum terutama mereka yang memiliki ilmu dan perhatian/spesialisai dengan tafsir. Karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa dan di zaman mereka. Sebab lainnya adalah mereka merupakan orang-orang yang paling jujur mencari kebenaran setelah para Nabi. Demikian pula mereka adalah orang-orang yang paling selamat dan bersih dari hawa nafsu yang memalingkan seseorang dari taufik dan kebenaran”.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Merupakan kebiasaan kami ketika mempelajari 10 ayat Al Qur’an, kami tidak akan melewatinya hingga mengetahui makna-maknanya (tafsirya) dan beramal dengannya” (Atsar diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tafsirnya, I/80).

Salah satu contoh penerapannya adalah Firman Allah Ta’ala, “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam safar atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan”! (QS. An Nisa : 43)

Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu menafsirkan bahwa menyentuh perempuan yang dimaksud pada ayat ini maksudnya adalah hubungan biologis suami istri. (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf (l/134), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya (l/192), dinilai shahih oleh lbnu ‘Utsaimin)

Tafsir Al Quran merujuk ucapan tabi’in

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Jika tidak terdapat tafsirnya di Al Qur’an, demikian pula di As Sunnah dan ucapan para shahabat maka mayoritas ulama merujuk kepada ucapan tabi’in semisal Mujahid bin Zubair. Sebab beliau merupakan ayat (teladan, pimpinan) dalam tafsir”.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Keempat, ucapan para tabi’in yang mereka mengambil tafsirnya dari para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Karena para tabi’in merupakan manusia terbaik setelah para shahabat. Demikian juga mereka adalah orang yang lebih selamat dari hawa nafsu setelah para shahabat. Bahasa Arab pun belum banyak berubah di masa mereka. Sehingga pemahaman mereka lebih dekat dengan kebenaran dibandingkan dengan orang-orang setelah mereka”.

Beliau rahimahullah menyebutkan dalil atas hal di atas adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ‘Sebaik-baik masa adalah masaku, kemudian orang-orang setelah itu. kemudian orang-orang setelah itu? ( HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga mengatakan, ”Oleh sebab itulah anda akan dapati pendapat, ucapan sebagian tabi’in benar-benar mirip dengan pendapat, ucapan para shahabat. Bahkan terkadang anda akan kesulitan membedakan antara atsar tabi’in dan shahabat”.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kelima, konsekuensi dari kata-kata berupa makna secara tinjauan syar’iyah dan bahasa yang sesuai dengan konteks“.

Diantara dalil yang menujukkan hal tersebut adalah Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya kami menjadikan Al Qur’an dalam Bahasa Arab agar kalian memahaminya”. (QS. Az Zukhruf: 3)

Beliau melanjutkan, “Jika bertentangan antara makna syar’i dan bahasa maka diambil konsekuensi makna syar’i. Karena Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan syari’at bukan menjelaskan makna bahasa. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan makna secara bahasa yang lebih bersesuaian maka boleh diambil”.

Salah satu contoh makna bahasa yang diambil dibanding makna syar’i disebabkan ada dalil pendukung adalah firman Allah Ta’ala, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan Sholatlah untuk mereka. Sesungguhnya sholat kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. At Taubah :103)

Sholat dalam ayat ini bukanlah sholat sebagaimana istilah syari’at berupa ibadah yang dimulai dengan takbirotul ihrom dan ditutup dengan salam. Melainkan maknanya secara Bahasa Arab sholat yaitu do’a. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada sebuah kaum yang datang membawa zakat mereka maka beliau pun mendo’akan, “Yaa Allah, berkahilah dan rahmatilah mereka”! (HR. Bukhori dan Muslim)

Allahu a’lam, mudah-mudahan bermanfaat untuk para sahabat semua.